0

Ketahui Mitos Vegetarian dan Faktanya

Griyadiet.com – Mitos Vegetarian diyakini selama ini dapat menurunkan resiko terkena penyakit seperti stroke, sakit jantung, diabetes dan lainnya. Vegetarian juga dinilai dapat mencegah obesitas. Eiits nanti dulu, Gajah juga Vegetarian dan kenyataannya gajah memiliki tubuh yang besar. Kenali Mitos dan faktanya.

Mitos vegetarian dan fakta

Mitos: Dapat menurunkan berat badan karena rendah kalori

Faktanya: Banyaknya bahan dan proses memasak turut berperan dalam pola makan rendah kalori, terlepas dari jenis bahan makanan yang diolah. Jika Anda mengolah bahan nabati dengan menggoreng dalam minyak banyak atau menggulai dengan santan, misalnya, hidangan yang dihasilkan akan memiliki kalori tinggi. Risiko hilangnya nutrisi akibat proses memasak yang demikian juga  turut mengintai. Cobalah mengolah makanan dengan cara merebus, memanggang dengan oven, mengukus, atau menumis dengan sedikit minyak. Perhatikan juga jumlah makanan yang Anda konsumsi. Tiap makanan mengandung kalori. Jika dimakan dalam jumlah berlebihan, ia akan disimpan tubuh dalam bentuk lemak dan meningkatkan berat badan.

Mitos: Pasti rendah lemak dan kolesterol sehingga dapat menurunkan risiko penyakit jantung

Faktanya: Pola makan vegetarian sudah lama dihubungkan dengan penurunan risiko hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, dan penyakit jantung. Penelitian di JAMA (Journal of the American Medical Association) Internal Medicine baru-baru ini menemukan bahwa orang yang mengonsumsi pola makan vegetarian memiliki risiko meninggal lebih rendah 12% dibanding yang bukan vegetarian. Penelitian juga menemukan, kaitan antara daging merah dengan risiko penyakit jantung dan kanker. Dengan mengonsumsi lebih banyak sayur dan buah yang mengandung banyak serat dan lebih rendah lemak jenuh, penganut pola makan vegetarian secara sadar lebih memperhatikan kesehatan mereka.

Mitos: Dapat meringankan gejala-gejala menopause

Faktanya: Selain karena adanya fluktuasi hormonal, pola makan juga dapat memengaruhi terjadinya gejala-gejala menopause, seperti mood swing dan hot flush. Menurut dr. Carmen, di Amerika Serikat yang mayoritas asupan makanannya berasal dari hewan, gejala hot flush (rasa panas yang merambat ke seluruh tubuh, sering kali disusul keluarnya keringat dan jantung berdebar) dialami oleh 75% wanita, sementara hanya 22%  wanita di Jepang dan 10% di Cina yang mengalaminya. Di dua negara terakhir, pola makan yang kaya sayuran hijau dan kuning, betakaroten, dan fitoestrogen relatif lebih umum dijalani. Fitoestrogen yang  banyak terkandung dalam kedelai, ginseng, dan seledri khususnya  berperan penting dalam mengurangi gejala dan menunda menopause. Fitoestrogen juga mampu mencegah kanker dan pengeroposan tulang (osteoporosis), dua penyakit yang risikonya meningkat setelah menopause akibat menurunnya produksi estrogen dalam tubuh.

Mitos: Membuat kulit lebih halus dan rambut lebih indah

Faktanya: Belum ada penelitan yang mengonfirmasi hal ini. Namun, menu makan vegetarian yang sangat kaya antioksidan mungkin membantu kulit untuk melawan radikal bebas yang merusak. Selama kulit dan rambut memperoleh asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup, memiliki kulit lebih halus dan rambut lebih indah bukan hal yang tidak mungkin. Jika terjadi sebaliknya, rambut justru rawan mengalami kerontokan, mengingat pertumbuhan rambut turut dipengaruhi oleh hormon, protein, zat besi, dan asam amino lisin.

Mitos: Rutin mengonsumsi kedelai berisiko terkena kanker payudara

Faktanya: Selama dikonsumsi secukupnya, kedelai dalam bentuk tempe, tahu, edamame, atau miso, tidak menjadi masalah. Apalagi, untuk pola makan orang Asia, makanan berbasis kedelai sudah menjadi makanan rakyat. Namun, meski sering disebut-sebut sebagai superfood yang berlimpah nutrisi, seperti fitoestrogen, kedelai hanya satu dari banyak sumber makanan berbasis tumbuhan. Variasikan asupan kedelai dan produk-produk olahannya dengan makanan berbasis tumbuhan lainnya.

Adapun pakar gizi dari Klinik Primavita, dr. Carmelita Ridwan, M.Sc, akan membantu Anda menguraikan fakta-fakta lainnya.

Mitos: Tidak mengonsumsi cukup protein

Faktanya: Absen mengonsumsi protein hewani bukan berarti Anda kekurangan asupan protein, karena protein juga terdapat dalam tumbuhan. Namun, untuk menggantikan protein hewani yang mengandung asam amino lengkap, perlu adanya variasi asupan protein nabati, mengingat protein nabati mengandung asam amino yang beragam.

Sumber protein nabati termasuk polong-polongan: kacang merah, kacang hitam, kacang hijau, kacang polong, kacang kedelai, edamame, serta serealia: beras merah, brown rice, oatmeal. Contoh menu yang disarankan adalah nasi merah, sup kacang merah dan tumis sayuran kacang polong, serta tambahan camilan seperti kacang almond, edamame, atau kacang tanah rebus.

Mitos : Rentan kekurangan zat besi

Faktanya: Tanpa sumber protein hewani seperti telur dan susu, seorang vegan memang rentan mengalami kekurangan sejumlah nutrisi esensial, termasuk zat besi. Untuk memenuhi kebutuhan   zat besi, banyaklah mengonsumsi sayuran hijau (bayam, brokoli, daun singkong), kacang-kacangan, polong-polongan, dan buah kering (kismis, prune, aprikot). Hindari  minum teh saat makan, karena dapat menghambat penyerapan zat besi yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.

Mitos : Terlarang bagi ibu hamil dan menyusui

Faktanya: Tidak ada larangan khusus bagi ibu hamil dan menyusui untuk menjalani pola makan vegetarian. Terlepas dari pola makan yang dijalani,  tiap ibu hamil dan menyusui perlu tetap memperhatikan asupan protein, zat besi, kalsium, vitamin B12, dan vitamin D. Susu nabati, yang diolah dari kedelai, almond, atau beras, dapat dikonsumsi untuk menggantikan kalsium dari susu sapi. Sumber pangan lain yang kaya kalsium misalnya jus jeruk yang difortifikasi kalsium, tofu, kacang kedelai, bok choi, sawi putih, oatmeal, dan brokoli. Selain itu, pemberian suplemen dapat dilakukan untuk menjamin kecukupan asupan vitamin dan mineral.

Mitos : Tidak cocok untuk bayi dan anak-anak

Faktanya: Anak-anak terkadang sulit makan, karena itu anak-anak di bawah 5 tahun tidak disarankan mengikuti pola makan vegetarian yang ketat, misalnya vegan.  Orang tua harus benar-benar mempunyai pengetahuan tentang kebutuhan nutrisi anak dan sumber makanan apa saja yang bisa disediakan. Untuk itu, diperlukan kerja sama dengan dokter anak dan dokter gizi.

Mitos : Lebih mudah lesu dan kehabisan tenaga

Faktanya: Selama kebutuhan nutrisi benar-benar diperhatikan, mereka yang menjalani pola makan vegetarian tak perlu khawatir akan mudah kekurangan energi. Risiko kekurangan nutrisi esensial pun dapat ditangkal dengan memperhatikan jumlah dan jenis makanan, serta mengonsumsi suplemen jika dibutuhkan.

Sumber : femina.co.id

Mengkonsumsi sayur dan buah buahan setiap hari tentunya sangat baik untuk kesehatan karena mengandung banyak serat, vitamin dan mineral. Tapi perlu diperhatikan cara mengolah makanan itu sangat mempengaruhi. Makanan rebus lebih sehat daripada yang digoreng atau dicampur santan.

Filed in: Info Diet dan Kesehatan Tags: ,

Get Updates

Share This Post

Recent Posts

Leave a Reply

Submit Comment

© 2016 Tips Diet Sehat Alami. All rights reserved.